Penderitaan merupakan salah satu misteri yang belum dapat dipecahkan
oleh manusia. Manusia selalu mempertanyakan tentang penderitaan dan
mencari jawabannya selama hampir sejarah kehidupannya di dunia ini. Narasi
tentang seorang pangeran bernama Sidharta Gautama yang meninggalkan seluruh
kepunyaannya demi memecahkan misteri tersebut merupakan salah satu contohnya.
Ia rela bertapa selama bertahun-tahun tanpa makan dan minum yang cukup hanya
untuk menggumuli penderitaan. Dalam narasi tersebut, pada akhirnya, ia
mengalami pencerahan dan menemukan jawabannya.
Namun, tidak semua manusia merasa puas dengan jawaban yang ia temukan
dan tawarkan. Bahkan, jawaban-jawaban lain yang diajukan oleh para pemuka
berbagai agama dan para filsuf tentang penderitaan tidaklah cukup. Jika
dikritisi lebih jauh memang akan selalu dapat ditemukan blindspot yang
menjadi pintu masuk bagi kritik tajam terhadapnya. Pada akhirnya, tidak sedikit
manusia menderita yang tadinya beragama memilih untuk menyangkal keberadaan
Allah. Mereka bukannya bersikap anti terhadap penderitaan, melainkan hanya
tidak rela menanggung derita yang tak beralasan.
Memang tidak mudah mengamini Allah dan keadilan-Nya ketika berhadapan
dengan penderitaan tak terperi. Apakah ada alasan logis para korban dan
keluarganya harus mengalami bencana alam tsunami yang menghajar wilayah utara
Sumatera pada tahun 2004? Bagaimana mungkin manusia tidak menggugat Allah
ketika berhadapan dengan gempa bumi mengerikan yang disusul oleh tsunami
setinggi enam meter dan kebakaran besar selama berhari-hari menghancurkan kota
Lisbon pada 1 November 1755? Dalam dua peristiwa itu, bukan hanya angka korban
material yang begitu tinggi, tetapi juga angka korban jiwa. Kurang lebih 70.000
jiwa tewas malapetaka di benua biru Eropa itu. Angka tersebut memang tidak
sebesar angka korban jiwa di Aceh, tetapi sangatlah berarti bagi Lisbon pada
saat itu.
Beberapa abad sebelum masehi, Epikuros menuliskan sebuah pernyataan
yang mempersoalkan peran Allah dalam penderitaan manusia. Filsuf Yunani itu
memang percaya akan eksistensi sosok ilahi, tetapi ia menyangkal peran-Nya
dalam kehidupan manusia di dunia. Menurutnya, para junjungan manusia itu
tinggal tenang di dunia atas dan tak tersentuh oleh jerit tangis penderitaan
manusia (Tjahjadi 2004).
Mungkin dewa ingin
mengatasi penderitaan, tetapi Dia tidak dapat melakukannya. Mungkin juga Dia
dapat, tetapi tidak mau melakukannya. Kemungkinan lainnya adalah Dia tidak
dapat dan juga tidak mau melakukannya. Apabila Dia mau tetapi tidak dapat, maka
Dia lemah ... Jika Dia dapat melakukannya tetapi tidak mau, maka Dia jahat ...
Kalau Dia tidak mau dan tidak dapat, maka Dia jahat sekaligus lemah. Tetapi
jika Dia dapat dan mau melakukannya, lantas dari mana asal penderitaan? (Kleden 2006, 16).
Penafsiran Gerrit Singgih terhadap narasi penciptaan yang termuat dalam
Kejadian 1:1-3 dapat menjadi salah satu tanggapan teologis terhadap pertanyaan
Epikuros tersebut. Dengan sikap oposisif terhadap konsep teologi penciptaan
klasik, yaitu creatio ex nihilo yang mengimani Allah sebagai
pencipta segala sesuatu, ia menawarkan pemahaman esensial tentang penderitaan
berdasarkan tafsiran alternatifnya. Tidak seperti konsep tersebut yang
berkonsekuensi menunjuk Allah sebagai pencipta penderitaan karena memang Ia
adalah pencipta segala sesuatu, tafsirannya alternatifnya ini tidak menyulitkan
posisi Allah.
Makalah ujian akhir semester ini akan mencoba memperlihatkan hubungan
penafsiran alternatif Gerrit Singgih dengan persoalan tentang penderitaan
manusia.[1]
Penulis menyadari bahwa para teolog Kristen berusaha membela Allah dan
keadilan-Nya ketika berhadapan dengan penderitaan. Pembelaan semacam ini
disebut ‘teodice’ (Yunani: theo = Allah, dikhe =
keadilan) untuk pertama kalinya oleh Leibniz. Hal ini dibuktikan dengan
munculnya berbagai pemahaman teologis tentang penderitaan, misalnya penderitaan
dalam kerangka harmoni kehidupan. Oleh karena itu, pembahasan tentang konsep itu
akan diberi tempat dalam makalah ini dan dikritisi secara teologis pula. Apa
yang ingin dikemukakan oleh penulis dalam makalah ini adalah sebuah pemahaman
biblis-teologis mengenai penderitaan manusia yang berdasarkan pada teks
Perjanjian Lama, khususnya teks Kejadian 1:1-3. Tujuannya adalah menawarkan
pemahaman biblis mengenai Allah dan penderitaan kepada para pembacanya yang
dapat dipertimbangkan sebagai salah satu batu fondasi iman.
Penderitaan
dalam Kerangka Harmoni Kehidupan
Agustinus memahami bahwa eksistensi penderitaan diperlukan dalam
kehidupan manusia. Teolog Kristen dari Hippo yang hidup pada abad ke-4 ini
mendasarkan pandangan teologisnya pada kepercayaan bahwa alam semesta (kosmos)
diciptakan dan diselenggarakan dalam keteraturan yang berada di bawah
kuasa Logos[2]
yang menciptakannya. Logos tidak mungkin menciptakan alam
semesta dan segala isinya tanpa tujuan dan makna. Dengan demikian, apapun yang
diciptakan dalam rencana-Nya, termasuk penderitaan (kematian, penyakit, dan
keburukan), pastilah bertujuan dan bermakna.
Sang Pencipta dipercayai sebagai sumber kebaikan dan harmoni.
Konsekuensinya adalah segala yang diciptakan-Nya, termasuk penderitaan,
pastilah baik dan harmonis dengan sesama ciptaan lain. Bak sebuah masterpiece lukisan
seniman ternama yang sangat indah karena keharmonisan warna-warna gelap dan
terang yang digoreskan di atas kanvasnya, perpaduan sempurna antara kebaikan
dan keburukan akan menghasilkan keindahan harmoni ciptaan. Itulah sebabnya
Agustinus mendorong manusia untuk memfokuskan diri tidak hanya pada
pengalaman-pengalaman buruk melulu tanpa mempertimbangkan adanya
pengalaman-pengalaman baik (Kleden 2006, 90-92).
Konsekuensi logis dari pemahaman seperti ini adalah dijunjungtingginya
keharmonisan ciptaan. Keberadaan atau keabsenan penderitaan dalam alam semesta
tidak akan merusak keharmonisannya. Alasannya adalah Logos (yang
kemudian disebut ‘Allah’) toh mampu menciptakan sesuatu lain
yang disebut bukan ‘penderitaan’ sebagai penyeimbang keharmonisan tersebut.
Namun, Ia tetap memberikan peran penyeimbang kepada penderitaan. Oleh karena
itu, manusia haruslah memandangnya sebagai bagian dari keharmonisan.
Lantas, tujuan dan makna ilahi semacam apa yang dapat ditemukan dari
penderitaan? Ketika tsunami meluluhlantakan Nangroe Aceh Darussalam yang
notabene berpenduduk mayoritas Islam, sebagian kalangan Kristen berpendapat
bahwa bencana alam tersebut sebagai hukuman dari Allah. Kebobrokan moral dan
kebejatan tingkah laku penduduk setempat, khususnya kepada para pemeluk
Kekristenan, dihakimi sebagai penyulut berkobarnya api murka-Nya. Untuk
Kita Renungkan-nya Ebiet G. Ade yang acap kali dijadikan lagu latar yang
membuka dan menutup laporan bencana berbagai media eletkronik seolah
mendramatisasi dan mempertegas pemahaman teologis itu. Mereka mengklaim bahwa
pertobatan hidup dianggap sebagai tujuan Allah menimpakan malapetaka atas diri
mereka.
Mereka membangkitkan
cemburu-Ku dengan yang bukan Allah. Mereka menimbulkan sakit hatiku-Ku dengan
berhala mereka ... Aku akan menimbun malapetaka ke atas mereka; seluruh anak
panah-Ku akan Kutembakkan kepada mereka. Apabila mereka sudah lemas karena
lapar dan merana oleh demam yang membara dan oleh penyakit sampar, maka aku
akan melepaskan taring binatang buas kepada mereka; dengan racun binatang yang menjalar
di dalam debu. Pedang di luar rumah dan kengerian di dalam kamar akan
melenyapkan teruna maupun dara, anak menyusu serta orang ubanan (Mohamad 2011, 14-15).
Selain berfungsi sebagai hukuman bagi kesalahan manusia, penderitaan
juga berfungsi sebagai latihan bagi manusia. Manusia yang mampu tetap beriman
dalam penderitaan dianggap akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan
spiritual. Layaknya otot-otot manusia yang berkembang dan semakin kuat
hanya jika dilatih dengan intens dalam jangka waktu tertentu, iman manusia akan
semakin berkembang dan dewasa hanya saat menghadapi kesulitan, pencobaan, dan
penderitaan (Reichenbach 1982, 96).
Konsep teodice yang mendudukan penderitaan dalam kerangka harmoni
kehidupan masih dipelihara hingga saat makalah ini ditulis. Dalam khotbah atau
lagu-lagu gerejawi, penderitaan dianggap perlu untuk menghentikan manusia dari
perbuatan dosa atau guna mendorong pertumbuhan imannya. Manusia haruslah
mengatakan dengan penuh kepercayaan pada Allah bahwa semuanya berjalan dengan
baik, meskipun sedang hancur hati atau sekarat secara fisik akibat beratnya
penderitaan.
Oleh karena itu, tidak sedikit kritik teologis-filosofis yang
dialamatkan kepada konsep ini. Menurut para kritikus, Allah ditampilkan sebagai
penguasa yang cenderung sewenang-wenang. Ia hampir tidak peduli dengan
cara-cara macam apa yang digunakan. Semua metode tampak halal selama mampu
menjamin tujuan pribadi-Nya terwujud. Padahal, dalam kasus bencana alam, bukan
hanya orang-orang berdosa yang tewas, tetapi juga sekian banyak orang baik dan
beriman kepada-Nya. Jika memperhatikan bencana di Lisabon, toh puluhan
katedral, gereja, dan biara rata dengan tanah. Sebagian besar korban tewas
akibat tertimpa reruntuhan bangunan-bangunan tersebut ketika mereka tengah
mengikuti missa dalam rangka memperingati Hari Orang Kudus. Lantas, mengapa Ia
tidak menghiraukan keberadaan orang-orang yang hidup sesuai kehendak-Nya itu?
Apakah mengorbankan manusia di atas altar demi kebaikan manusia lainnya
merupakan cara terluhur yang dapat digunakan Allah?
Lalu, apakah penderitaan dapat menjamin hasilnya akan selalu baik?
Tidak! Sebaliknya, salah satu pendorong manusia untuk menyangkal Allah dan
eksistensi-Nya adalah keberadaan penderitaan. Hicks mengatakan bahwa memang
penderitaan dapat membuat hidup manusia menjadi lebih baik dan bermoral,
misalnya keegoisan berubah menjadi belaskasih, kesombongan berubah menjadi
kesabaran dan kerendahan hati. Namun, semua tidak selalu berjalan semulus itu.
Sering kali malah iman kepada Allah hancur dan kejahatan muncul setelahnya
(Reichenbach 1982, 100).
Ex
Nihilo Nihil Fit: Tafsiran Alternatif atas Kejadian 1:1-3
Tafsiran tradisional-konvensional para teolog atas teks Kejadian 1:1-3
menempatkan creatio ex nihilo sebagai teologi penciptaan
tunggal dalam ajaran Kristen. Berdasarkan ketiga ayat tersebut, Allah diakui
sebagai pencipta segala sesuatu yang ada. Kuasa Allah yang sangat besar dan tak
tertandingi itu memungkinkan diri-Nya untuk menciptakan tanpa bahan mentah
apapun. Semuanya tercipta hanya karena Ia bersabda.
Walter Lempp, seorang teolog yang pernah mengajar di Sekolah Tinggi
Teologi Jakarta, bersikap pro terhadap creatio ex nihilo. Ia
mendasarkan pemahamannya itu pada tafsiran terhadap kata ‘menciptakan’ (Ibrani:
Bara) dalam ayat 1. Menurutnya, kata ‘menciptakan’ pastilah dan haruslah
dimengerti sebagai kegiatan aktif meng-ada-kan sesuatu dari yang tidak ada
(Lempp 1987, 15).
Konsekuensi logis dari pemahaman teologis ini adalah keberadaan ciptaan
bergantung pada keberadaan Allah. Secara ontologis, Ia adalah primera
causa atau penyebab utama. Jika menggunakan bahasa Perjanjian Baru, Ia
adalah Yang Awal (dan Yang Akhir). Dengan demikian, inisiatif Allah menciptakan
segala sesuatu pastilah terencana dan bermakna bagi kehidupan ciptaan, termasuk
manusia. Ia tidak sedang iseng bersabda pada saat itu.
Namun, seperti yang telah dipaparkan di atas, teologi penciptaan
semacam ini menyudutkan posisi Allah. Ia dipandang bersalah karena juga telah
menciptakan keburukan (malum), termasuk
penderitaan. Sekalipun penderitaan tersebut berusaha ditundukkan oleh
kepercayaan soal keharmonisan ciptaan, posisi Allah tidak bergerak sedikit pun
dari sudut. Ia tetap berada di sana untuk dipersalahkan karena kepercayaan
tersebut memiliki kecacatan argumen yang terlihat jelas seperti yang telah
dipaparkan di atas.
Jika demikian, benarkah Allah adalah Sang Pencipta yang mengadakan
segala sesuatunya dari ketiadaan? Gerrit Singgih menyatakan ketidaksetujuannya
terhadap creatio ex nihilo dalam bukunya yang berjudul Dua
Konteks: Tafsir-tafsir Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perjalanan
Reformasi di Indonesia. Ia menawarkan teologi penciptaan alternatif
yang didasarkan pada penafsiran atas lima kata yang tertulis dalam ketiga ayat
tersebut, yaitu ‘beresyit’, ‘bara’, ‘tohu wabohu’, ‘or’,
dan ‘hayetah’. Penafsiran ini dapat “menyelamatkan” Allah dari aliran
hujatan dan hujanan kritik yang menimpa-Nya.
Kata pertama dalam ayat 1 adalah ‘beresyit’ yang
diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sebagai ‘pada mulanya’. Jika
merujuk pada Alkitab versi lain, misalnya Revised Standar Version, kata
tersebut diterjemahkan sebagai ‘in the beginning’ yang memiliki arti
sama dengan apa yang ditafsirkan LAI. Konsekuensinya adalah ‘pada mulanya’
mengindikasikan bahwa Allah telah ada sebelum ciptaan (Singgih 2009, 219).
Namun, Allah hampir tidak pernah disebutkan sendirian dalam teks-teks
Perjanjian Lama. Ia selalu dihubungkan dengan langit sebagai tempat
kediaman-Nya. Terdapat kemungkinan yang menyebutkan bahwa Allah telah ada di
langit ketika menciptakan bumi. Mungkin ini adalah alasan penulis Kitab
Kejadian lebih memfokuskan diri hanya pada penciptaan bumi pada ayat kedua.
Dengan demikian, alih-alih berada sendirian di luar ciptaan, termasuk di luar
ruang dan waktu, Ia justru berada bersama-sama dengan ciptaan (Singgih 2009,
221).
Konsep mengenai keberadaan Allah bersama dengan ciptaan
bertolakbelakang dengan kata ‘pada mulanya’ yang menandakan permulaan waktu.
Jika ditafsirkan secara tekstual, kata ‘beresyit’ memang keliru jika
ditafsirkan sebagai ‘pada mulanya’ mengingat ketidakadaan kata sandang ha- sebelum
kata tersebut. Jadi, seharusnya kata itu diterjemahkan oleh LAI menjadi
‘semula’ atau ‘in a beginning’ (Singgih 2009, 218). Menurut Singgih,
‘semula’ yang dimaksud menerangkan keadaan bumi pra-penciptaan yang
masih kosong.
Kata kedua yang ditafsirkan oleh Singgih adalah ‘bara’ yang,
pada umumnya, diterjemahkan sebagai ‘menciptakan’. Bagi para pendukung creatio
ex nihilo, kata ini selalu disandingkan dengan subjek tetap, yaitu Allah.
Jika mempertimbangkan penggunaan kata ini dalam teks-teks Perjanjian Lama
lainnya, misalnya Kel. 34:10, Bil. 16:30, dan Mzm. 51:10, yang menunjukkan
ketidakberbandingan Allah dalam menciptakan sesuatu yang baru, prinsip creatio
ex nihilo mendapatkan dukungan biblis. Hal ini diperkuat dengan fakta
bahwa teks-teks tersebut tidak menyebutkan bahan dasar yang digunakan-Nya untuk
mencipta.
Namun, penafsiran kata ‘bara’ sebagai ‘menciptakan’ tidaklah
tepat. Menurut Singgih, setidaknya terdapat dua alasan yang menggugat penafsiran
tersebut. Gugatan pertama adalah fakta bahwa adanya unsur-unsur pra-penciptaan yang
mendahului aksi ‘bara’, sedangkan gugatan kedua adalah kata ‘bara’ tidak selalu
diterjemahkan sebagai ‘menciptakan’. Menurut Robert Caroll, terdapat
kemungkinan ‘bara’ dapat diterjemahkan sebagai ‘memotong’. ‘Memotong’ yang
dimaksudkan sama seperti seorang yang menebang pohon-pohon untuk membuka hutan
dan mendirikan pemukiman. Jika penafsiran ini yang digunakan, keberadaan
unsur-unsur pra-bara tidak disangkal (Singgih 2009, 238)
Kata selanjutnya yang ditafsirkan adalah ‘tohu wabohu’. Pada
umumnya kata ini diterjemahkan sebagai ‘belum berbentuk dan kosong’. Namun,
Singgih menerjemahkannya sebagai ‘padang gurun belantara’ yang memiliki kesan
mati, kosong, tak terawat dengan baik, dan terlantar karena tidak ada kehidupan
yang menatanya (Singgih 2009, 223).
Lalu, apakah unsur-unsur lain, yaitu ‘khosyek’ atau ‘gelap
gulita’, ‘tehom’ atau ‘samudera raya’, dan ‘hamayim’ atau ‘air’,
yang disebutkan sesuai dengan tafsiran ‘tohu wabohu’ sebagai keadaan
‘padang gurun belantara’? Ya! Gelap gulita tentu saja sesuai dengan keadaan
tersebut. Penyebutan ‘tehom’ dan ‘hamayim’ bukan untuk
menunjukkan adanya sunsur-unsur alam seperti yang kita pahami sekarang,
melainkan untuk menunjukkan suatu keadaan kosong ala padang gurun belantara
(Singgih 2009, 232). Dengan demikian, bumi bukan hanya masih berwujud pada
gurun belantara yang kosong, tetapi memang belum ada bumi seperti yang kita
kenal sekarang.
Kata-kata terakhir yang ditafsirkan oleh Singgih adalah ‘or’
yang berarti ‘terang’ dan ‘hayetah’ yang berarti ‘adalah’. Terang
dipisahkan oleh Roh Allah dari gelap dan dinamakan ‘siang’ untuk membedakannya
dengan gelap (khosyek) yang bernama ‘malam’. Pemisahan
terang dari gelap ini menunjukkan bahwa gelap telah ada terlebih dahulu dalam
wujud keadaan pra-bara. Hal ini juga berlaku pada ‘laut’ yang bukanlah
ciptaan, melainkan keadaan pra-bara yang ditata oleh Allah dengan
menempatkannya dalam sebuah “wadah” khusus (Singgih 2009, 244). Mengenai kata ‘hayetah’
yang ditempatkan sebelum kata ‘tohu wabohu’, Singgih menafsirkannya
bukan sebagai ‘adalah’, melainkan sebagai ‘tadinya’.
Setelah memahami langkah-langkah penafsiran alternatif Singgih atas
Kejadian 1:1-3 yang berbeda dengan penafsiran konvensional, kita dapat menarik
kesimpulan bahwa ia mengasumsikan adanya chaos atau kekosongan
sebelum penciptaan. Ia memang tidak mempersoalkan apakah kekosongan tersebut
diciptakan terlebih dahulu oleh Allah daripada bumi dan segala isinya, tetapi
itu dapat ditoleransi karena toh para penulis Kitab Kejadian
tidak mempersoalkan ontologisnya. Allah yang ada bersama dengan chaos itu
menatanya hingga menjadi kosmos yang teratur. Penataan tersebut tidak terjadi
secara ajaib ala sihir atau sulap, melainkan melibatkan proses atas bahan
dasar, yaitu keadaan pra-bara. Dengan demikian, tafsiran alternatif
Singgih adalah sebagai berikut:
Ayat
1: Semula, ketika Allah menciptakan langit dan bumi,
Ayat
2: bumi tadinya padang gurun belantara, (dan) gelap gulita di atas permukaan
samudera raya. Namun kemudia Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
Ayat
3: dan Allah berkata, “Biarlah ada terang”. Lalu terjadilah terang (Singgih
2009, 214).
Di
Manakah Allah Ketika Manusia Menderita?: Sebuah Refleksi Biblis-Teologis
Ex nihilo nihil fit yang dikemukakan oleh
Gerrit Singgih menutup blindspot yang terdapat dalam teologi
penciptaan creatio ex nihilo. Konsep teologi penciptaan yang
ia konstruksi dengan menggunakan pendekatan tafsiran tekstual dan pertimbangan
konteks penulisan ini tidak menempatkan Allah sebagai pencipta segala sesuatu.
Menurutnya, sebelum alam semesta ditata sedemikian rupa oleh Allah, telah
ada chaos yang ada terlebih dahulu. Kekosongan itu berada
bersama dengan Sang Penata.
Pemahaman akan keberadaan Allah bersama dengan ciptaan dalam karyanya
menata chaos menjadi kosmos merupakan ide teologis dasar atas
refleksi mengenai penderitaan manusia. Ketika bencana alam datang bergandengan
tangan dengan penderitaan, manusia mempertanyakan keberadaan-Nya. Sayangnya,
jawaban yang diberikan kepada manusia malah mengisyaratkan posisi Allah di luar
ciptaan. Ia dipercaya bertindak sebagai dalang yang menyebabkan semua terjadi
sesuai keinginan dan tujuan-Nya. Tidaklah mengherankan jika seringkali Ia
dihujat dan ditinggalkan pada akhirnya. Padahal, Allah (selalu) ada bersama
dengan ciptaan. Ia tidaklah berada di belakang penderitaan atau di dunia atas
nun jauh hanya mengamati ciptaan, melainkan berada di dalam penderitaan bersama
dengan manusia yang mengerang kesakitan, hewan-hewan yang meringkuk sekarat,
dan tumbuh-tumbuhan yang berteriak minta tolong dalam kebisuan. Teriakan
ciptaan adalah teriakan-Nya. Tangisan ciptaan adalah tangisan-Nya pula. Ia ikut
menderita bersama ciptaan.
Kebersamaan Allah dengan ciptaan bukanlah dengan tujuan mengeleminasi
penderitaan. Manusia salah besar jika menyangka bahwa penyakitnya akan
dipulihkan secara ajaib jika datang kepada-Nya. Ia hadir bersama dengan ciptaan
untuk menjadi kawan sependeritaan yang berbelarasa. Bahkan, lebih jauh daripada
itu, Allah juga menjadi rekan sekerja yang hadir untuk menolong manusia
menata chaos akibat bencana. Dalam artikel berjudul Allah
dan Penderitaan di dalam Refleksi Teologis Rakyat Indonesia, Gerrit Singgih
merefleksikan Allah yang hadir dalam diri para tentara dan polisi di Aceh yang
ditugaskan untuk “menata” chaos (tentu saja bersama dengan
pihak-pihak terkait) saat mereka tengah menderita akibat kehilangan sanak
saudara dan kerabatnya. Solidaritas semacam itu sangatlah memadai untuk
menjawab pertanyaan soal keberadaan Allah ketika manusia menderita (Singgih,
Allah dan Penderitaan di dalam Refleksi Teologis Rakyat Indonesia 2005, 6).
Konsekuensi teologis-etis dari solidaritas Allah yang ditemukan dalam
pertolongan sesama mendorong manusia untuk mengulurkan tangan kepada sesama
yang tengah menderita dalam rangka menatachaos menjadi kosmos.
Daftar Acuan
Kleden,
Paul Budi. Membongkar Derita. Maumere: Ledalero, 2006.
Lempp,
Walter. Kejadian 1:1-4:26. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.
Mohamad,
Goenawan. Debu. Duka. Dsb.: Sebuah Pertimbangan Anti-theodese. Jakarta:
Tempo & PT Grafiti Pers, 2011.
Reichenbach,
Bruce R. Evil and A Good God. New York: Fordham University
Press, 1982.
Singgih,
Emanuel Gerrit. “Allah dan Penderitaan di dalam Refleksi Teologis Rakyat
Indonesia.” Konsultasi Nasional dalam Kerjasama dengan PGI dan
EKUMINDO: Teologi Bencana. Makassar: Oase Intim, 2005. 6.
—. Dua
Konteks: Tafsir-tafsir Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perjalanan
Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Tjahjadi,
Simon Petrus Lili. Petualangan Intelektual. Yogyakarta:
Kanisius, 2004.
[1]
Terminologi ‘penderitaan’ yang dimaksud oleh penulis merupakan salah satu
contoh atau turunan dari kata malumyang diterjemahkan sebagai
‘keburukan’. Terjemahan tersebut berbeda dengan ‘kejahatan’ karena keburukan
terjadi bukan sebagai pelanggaran hukum etis-moral, melainkan sebagai keadaan
alamiah. Agustinus mendefinisikan malumsecara general sebagai
‘keadaan yang merugikan’ (malum est id quod nocet).
[2]
Penggunaan kata ‘Logos’ mengindikasikan pemahaman filosofis yang tengah
mempengaruhi dunia Barat pada masa itu. Jejak Gnostisisme yang mengenal istilah
tersebut dalam konsep metafisikanya masih dapat ditemukan dalam pemikiran
manusia, sekalipun telah dipadukan dengan ajaran Stoa dan Neoplatonisme.