Saturday, September 1, 2012

Di Manakah Allah Ketika Manusia Menderita? Sebuah Upaya Biblis dalam Menggumuli Teodice dan Penderitaan Manusia

Pendahuluan
Penderitaan merupakan salah satu misteri yang belum dapat dipecahkan oleh manusia.  Manusia selalu mempertanyakan tentang penderitaan dan mencari jawabannya selama hampir sejarah kehidupannya di dunia ini. Narasi tentang seorang pangeran bernama Sidharta Gautama yang meninggalkan seluruh kepunyaannya demi memecahkan misteri tersebut merupakan salah satu contohnya. Ia rela bertapa selama bertahun-tahun tanpa makan dan minum yang cukup hanya untuk menggumuli penderitaan. Dalam narasi tersebut, pada akhirnya, ia mengalami pencerahan dan menemukan jawabannya.
Namun, tidak semua manusia merasa puas dengan jawaban yang ia temukan dan tawarkan. Bahkan, jawaban-jawaban lain yang diajukan oleh para pemuka berbagai agama dan para filsuf tentang penderitaan tidaklah cukup. Jika dikritisi lebih jauh memang akan selalu dapat ditemukan blindspot yang menjadi pintu masuk bagi kritik tajam terhadapnya. Pada akhirnya, tidak sedikit manusia menderita yang tadinya beragama memilih untuk menyangkal keberadaan Allah. Mereka bukannya bersikap anti terhadap penderitaan, melainkan hanya tidak rela menanggung derita yang tak beralasan.
Memang tidak mudah mengamini Allah dan keadilan-Nya ketika berhadapan dengan penderitaan tak terperi. Apakah ada alasan logis para korban dan keluarganya harus mengalami bencana alam tsunami yang menghajar wilayah utara Sumatera pada tahun 2004? Bagaimana mungkin manusia tidak menggugat Allah ketika berhadapan dengan gempa bumi mengerikan yang disusul oleh tsunami setinggi enam meter dan kebakaran besar selama berhari-hari menghancurkan kota Lisbon pada 1 November 1755? Dalam dua peristiwa itu, bukan hanya angka korban material yang begitu tinggi, tetapi juga angka korban jiwa. Kurang lebih 70.000 jiwa tewas malapetaka di benua biru Eropa itu. Angka tersebut memang tidak sebesar angka korban jiwa di Aceh, tetapi sangatlah berarti bagi Lisbon pada saat itu.
Beberapa abad sebelum masehi, Epikuros menuliskan sebuah pernyataan yang mempersoalkan peran Allah dalam penderitaan manusia. Filsuf Yunani itu memang percaya akan eksistensi sosok ilahi, tetapi ia menyangkal peran-Nya dalam kehidupan manusia di dunia. Menurutnya, para junjungan manusia itu tinggal tenang di dunia atas dan tak tersentuh oleh jerit tangis penderitaan manusia (Tjahjadi 2004).
Mungkin dewa ingin mengatasi penderitaan, tetapi Dia tidak dapat melakukannya. Mungkin juga Dia dapat, tetapi tidak mau melakukannya. Kemungkinan lainnya adalah Dia tidak dapat dan juga tidak mau melakukannya. Apabila Dia mau tetapi tidak dapat, maka Dia lemah ... Jika Dia dapat melakukannya tetapi tidak mau, maka Dia jahat ... Kalau Dia tidak mau dan tidak dapat, maka Dia jahat sekaligus lemah. Tetapi jika Dia dapat dan mau melakukannya, lantas dari mana asal penderitaan? (Kleden 2006, 16).
Penafsiran Gerrit Singgih terhadap narasi penciptaan yang termuat dalam Kejadian 1:1-3 dapat menjadi salah satu tanggapan teologis terhadap pertanyaan Epikuros tersebut. Dengan sikap oposisif terhadap konsep teologi penciptaan klasik, yaitu creatio ex nihilo yang mengimani Allah sebagai pencipta segala sesuatu, ia menawarkan pemahaman esensial tentang penderitaan berdasarkan tafsiran alternatifnya. Tidak seperti konsep tersebut yang berkonsekuensi menunjuk Allah sebagai pencipta penderitaan karena memang Ia adalah pencipta segala sesuatu, tafsirannya alternatifnya ini tidak menyulitkan posisi Allah.
Makalah ujian akhir semester ini akan mencoba memperlihatkan hubungan penafsiran alternatif Gerrit Singgih dengan persoalan tentang penderitaan manusia.[1] Penulis menyadari bahwa para teolog Kristen berusaha membela Allah dan keadilan-Nya ketika berhadapan dengan penderitaan. Pembelaan semacam ini disebut ‘teodice’ (Yunani: theo = Allah, dikhe = keadilan) untuk pertama kalinya oleh Leibniz. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai pemahaman teologis tentang penderitaan, misalnya penderitaan dalam kerangka harmoni kehidupan. Oleh karena itu, pembahasan tentang konsep itu akan diberi tempat dalam makalah ini dan dikritisi secara teologis pula. Apa yang ingin dikemukakan oleh penulis dalam makalah ini adalah sebuah pemahaman biblis-teologis mengenai penderitaan manusia yang berdasarkan pada teks Perjanjian Lama, khususnya teks Kejadian 1:1-3. Tujuannya adalah menawarkan pemahaman biblis mengenai Allah dan penderitaan kepada para pembacanya yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu batu fondasi iman.

Penderitaan dalam Kerangka Harmoni Kehidupan
Agustinus memahami bahwa eksistensi penderitaan diperlukan dalam kehidupan manusia. Teolog Kristen dari Hippo yang hidup pada abad ke-4 ini mendasarkan pandangan teologisnya pada kepercayaan bahwa alam semesta (kosmos) diciptakan dan diselenggarakan dalam keteraturan yang berada di bawah kuasa Logos[2] yang menciptakannya. Logos tidak mungkin menciptakan alam semesta dan segala isinya tanpa tujuan dan makna. Dengan demikian, apapun yang diciptakan dalam rencana-Nya, termasuk penderitaan (kematian, penyakit, dan keburukan), pastilah bertujuan dan bermakna.
Sang Pencipta dipercayai sebagai sumber kebaikan dan harmoni. Konsekuensinya adalah segala yang diciptakan-Nya, termasuk penderitaan, pastilah baik dan harmonis dengan sesama ciptaan lain. Bak sebuah masterpiece lukisan seniman ternama yang sangat indah karena keharmonisan warna-warna gelap dan terang yang digoreskan di atas kanvasnya, perpaduan sempurna antara kebaikan dan keburukan akan menghasilkan keindahan harmoni ciptaan. Itulah sebabnya Agustinus mendorong manusia untuk memfokuskan diri tidak hanya pada pengalaman-pengalaman buruk melulu tanpa mempertimbangkan adanya pengalaman-pengalaman baik (Kleden 2006, 90-92).
Konsekuensi logis dari pemahaman seperti ini adalah dijunjungtingginya keharmonisan ciptaan. Keberadaan atau keabsenan penderitaan dalam alam semesta tidak akan merusak keharmonisannya. Alasannya adalah Logos (yang kemudian disebut ‘Allah’) toh mampu menciptakan sesuatu lain yang disebut bukan ‘penderitaan’ sebagai penyeimbang keharmonisan tersebut. Namun, Ia tetap memberikan peran penyeimbang kepada penderitaan. Oleh karena itu, manusia haruslah memandangnya sebagai bagian dari keharmonisan.
Lantas, tujuan dan makna ilahi semacam apa yang dapat ditemukan dari penderitaan? Ketika tsunami meluluhlantakan Nangroe Aceh Darussalam yang notabene berpenduduk mayoritas Islam, sebagian kalangan Kristen berpendapat bahwa bencana alam tersebut sebagai hukuman dari Allah. Kebobrokan moral dan kebejatan tingkah laku penduduk setempat, khususnya kepada para pemeluk Kekristenan, dihakimi sebagai penyulut berkobarnya api murka-Nya. Untuk Kita Renungkan-nya Ebiet G. Ade yang acap kali dijadikan lagu latar yang membuka dan menutup laporan bencana berbagai media eletkronik seolah mendramatisasi dan mempertegas pemahaman teologis itu. Mereka mengklaim bahwa pertobatan hidup dianggap sebagai tujuan Allah menimpakan malapetaka atas diri mereka.
Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah. Mereka menimbulkan sakit hatiku-Ku dengan berhala mereka ... Aku akan menimbun malapetaka ke atas mereka; seluruh anak panah-Ku akan Kutembakkan kepada mereka. Apabila mereka sudah lemas karena lapar dan merana oleh demam yang membara dan oleh penyakit sampar, maka aku akan melepaskan taring binatang buas kepada mereka; dengan racun binatang yang menjalar di dalam debu. Pedang di luar rumah dan kengerian di dalam kamar akan melenyapkan teruna maupun dara, anak menyusu serta orang ubanan (Mohamad 2011, 14-15).
Selain berfungsi sebagai hukuman bagi kesalahan manusia, penderitaan juga berfungsi sebagai latihan bagi manusia. Manusia yang mampu tetap beriman dalam penderitaan dianggap akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan spiritual. Layaknya otot-otot manusia yang  berkembang dan semakin kuat hanya jika dilatih dengan intens dalam jangka waktu tertentu, iman manusia akan semakin berkembang dan dewasa hanya saat menghadapi kesulitan, pencobaan, dan penderitaan (Reichenbach 1982, 96).
Konsep teodice yang mendudukan penderitaan dalam kerangka harmoni kehidupan masih dipelihara hingga saat makalah ini ditulis. Dalam khotbah atau lagu-lagu gerejawi, penderitaan dianggap perlu untuk menghentikan manusia dari perbuatan dosa atau guna mendorong pertumbuhan imannya. Manusia haruslah mengatakan dengan penuh kepercayaan pada Allah bahwa semuanya berjalan dengan baik, meskipun sedang hancur hati atau sekarat secara fisik akibat beratnya penderitaan.
Oleh karena itu, tidak sedikit kritik teologis-filosofis yang dialamatkan kepada konsep ini. Menurut para kritikus, Allah ditampilkan sebagai penguasa yang cenderung sewenang-wenang. Ia hampir tidak peduli dengan cara-cara macam apa yang digunakan. Semua metode tampak halal selama mampu menjamin tujuan pribadi-Nya terwujud. Padahal, dalam kasus bencana alam, bukan hanya orang-orang berdosa yang tewas, tetapi juga sekian banyak orang baik dan beriman kepada-Nya. Jika memperhatikan bencana di Lisabon, toh puluhan katedral, gereja, dan biara rata dengan tanah. Sebagian besar korban tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan-bangunan tersebut ketika mereka tengah mengikuti missa dalam rangka memperingati Hari Orang Kudus. Lantas, mengapa Ia tidak menghiraukan keberadaan orang-orang yang hidup sesuai kehendak-Nya itu? Apakah mengorbankan manusia di atas altar demi kebaikan manusia lainnya merupakan cara terluhur yang dapat digunakan Allah?
Lalu, apakah penderitaan dapat menjamin hasilnya akan selalu baik? Tidak! Sebaliknya, salah satu pendorong manusia untuk menyangkal Allah dan eksistensi-Nya adalah keberadaan penderitaan. Hicks mengatakan bahwa memang penderitaan dapat membuat hidup manusia menjadi lebih baik dan bermoral, misalnya keegoisan berubah menjadi belaskasih, kesombongan berubah menjadi kesabaran dan kerendahan hati. Namun, semua tidak selalu berjalan semulus itu. Sering kali malah iman kepada Allah hancur dan kejahatan muncul setelahnya (Reichenbach 1982, 100).

Ex Nihilo Nihil Fit: Tafsiran Alternatif atas Kejadian 1:1-3
Tafsiran tradisional-konvensional para teolog atas teks Kejadian 1:1-3 menempatkan creatio ex nihilo sebagai teologi penciptaan tunggal dalam ajaran Kristen. Berdasarkan ketiga ayat tersebut, Allah diakui sebagai pencipta segala sesuatu yang ada. Kuasa Allah yang sangat besar dan tak tertandingi itu memungkinkan diri-Nya untuk menciptakan tanpa bahan mentah apapun. Semuanya tercipta hanya karena Ia bersabda.
Walter Lempp, seorang teolog yang pernah mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, bersikap pro terhadap creatio ex nihilo. Ia mendasarkan pemahamannya itu pada tafsiran terhadap kata ‘menciptakan’ (Ibrani: Bara) dalam ayat 1. Menurutnya, kata ‘menciptakan’ pastilah dan haruslah dimengerti sebagai kegiatan aktif meng-ada-kan sesuatu dari yang tidak ada (Lempp 1987, 15).
Konsekuensi logis dari pemahaman teologis ini adalah keberadaan ciptaan bergantung pada keberadaan Allah. Secara ontologis, Ia adalah primera causa atau penyebab utama. Jika menggunakan bahasa Perjanjian Baru, Ia adalah Yang Awal (dan Yang Akhir). Dengan demikian, inisiatif Allah menciptakan segala sesuatu pastilah terencana dan bermakna bagi kehidupan ciptaan, termasuk manusia. Ia tidak sedang iseng bersabda pada saat itu.
Namun, seperti yang telah dipaparkan di atas, teologi penciptaan semacam ini menyudutkan posisi Allah. Ia dipandang bersalah karena juga telah menciptakan keburukan (malum)termasuk penderitaan. Sekalipun penderitaan tersebut berusaha ditundukkan oleh kepercayaan soal keharmonisan ciptaan, posisi Allah tidak bergerak sedikit pun dari sudut. Ia tetap berada di sana untuk dipersalahkan karena kepercayaan tersebut memiliki kecacatan argumen yang terlihat jelas seperti yang telah dipaparkan di atas.
Jika demikian, benarkah Allah adalah Sang Pencipta yang mengadakan segala sesuatunya dari ketiadaan? Gerrit Singgih menyatakan ketidaksetujuannya terhadap creatio ex nihilo dalam bukunya yang berjudul Dua Konteks: Tafsir-tafsir Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perjalanan Reformasi di Indonesia. Ia menawarkan teologi penciptaan alternatif yang didasarkan pada penafsiran atas lima kata yang tertulis dalam ketiga ayat tersebut, yaitu ‘beresyit’, ‘bara’, ‘tohu wabohu’, ‘or’, dan ‘hayetah’. Penafsiran ini dapat “menyelamatkan” Allah dari aliran hujatan dan hujanan kritik yang menimpa-Nya.
Kata pertama dalam ayat 1 adalah ‘beresyit’ yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sebagai ‘pada mulanya’. Jika merujuk pada Alkitab versi lain, misalnya Revised Standar Version, kata tersebut diterjemahkan sebagai ‘in the beginning’ yang memiliki arti sama dengan apa yang ditafsirkan LAI. Konsekuensinya adalah ‘pada mulanya’ mengindikasikan bahwa Allah telah ada sebelum ciptaan (Singgih 2009, 219).
Namun, Allah hampir tidak pernah disebutkan sendirian dalam teks-teks Perjanjian Lama. Ia selalu dihubungkan dengan langit sebagai tempat kediaman-Nya. Terdapat kemungkinan yang menyebutkan bahwa Allah telah ada di langit ketika menciptakan bumi. Mungkin ini adalah alasan penulis Kitab Kejadian lebih memfokuskan diri hanya pada penciptaan bumi pada ayat kedua. Dengan demikian, alih-alih berada sendirian di luar ciptaan, termasuk di luar ruang dan waktu, Ia justru berada bersama-sama dengan ciptaan (Singgih 2009, 221).
Konsep mengenai keberadaan Allah bersama dengan ciptaan bertolakbelakang dengan kata ‘pada mulanya’ yang menandakan permulaan waktu. Jika ditafsirkan secara tekstual, kata ‘beresyit’ memang keliru jika ditafsirkan sebagai ‘pada mulanya’ mengingat ketidakadaan kata sandang ha- sebelum kata tersebut. Jadi, seharusnya kata itu diterjemahkan oleh LAI menjadi ‘semula’ atau ‘in a beginning’ (Singgih 2009, 218). Menurut Singgih, ‘semula’ yang dimaksud menerangkan keadaan bumi pra-penciptaan yang masih kosong.
Kata kedua yang ditafsirkan oleh Singgih adalah ‘bara’ yang, pada umumnya, diterjemahkan sebagai ‘menciptakan’. Bagi para pendukung creatio ex nihilo, kata ini selalu disandingkan dengan subjek tetap, yaitu Allah. Jika mempertimbangkan penggunaan kata ini dalam teks-teks Perjanjian Lama lainnya, misalnya Kel. 34:10, Bil. 16:30, dan Mzm. 51:10, yang menunjukkan ketidakberbandingan Allah dalam menciptakan sesuatu yang baru, prinsip creatio ex nihilo mendapatkan dukungan biblis. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa teks-teks tersebut tidak menyebutkan bahan dasar yang digunakan-Nya untuk mencipta.
Namun, penafsiran kata ‘bara’ sebagai ‘menciptakan’ tidaklah tepat. Menurut Singgih, setidaknya terdapat dua alasan yang menggugat penafsiran tersebut. Gugatan pertama adalah fakta bahwa adanya unsur-unsur pra-penciptaan yang mendahului aksi ‘bara’, sedangkan gugatan kedua adalah kata ‘bara’ tidak selalu diterjemahkan sebagai ‘menciptakan’. Menurut Robert Caroll, terdapat kemungkinan ‘bara’ dapat diterjemahkan sebagai ‘memotong’. ‘Memotong’ yang dimaksudkan sama seperti seorang yang menebang pohon-pohon untuk membuka hutan dan mendirikan pemukiman. Jika penafsiran ini yang digunakan, keberadaan unsur-unsur pra-bara tidak disangkal (Singgih 2009, 238)
Kata selanjutnya yang ditafsirkan adalah ‘tohu wabohu’. Pada umumnya kata ini diterjemahkan sebagai ‘belum berbentuk dan kosong’. Namun, Singgih menerjemahkannya sebagai ‘padang gurun belantara’ yang memiliki kesan mati, kosong, tak terawat dengan baik, dan terlantar karena tidak ada kehidupan yang menatanya (Singgih 2009, 223).
Lalu, apakah unsur-unsur lain, yaitu ‘khosyek’ atau ‘gelap gulita’, ‘tehom’ atau ‘samudera raya’, dan ‘hamayim’ atau ‘air’, yang disebutkan sesuai dengan tafsiran ‘tohu wabohu’ sebagai keadaan ‘padang gurun belantara’? Ya! Gelap gulita tentu saja sesuai dengan keadaan tersebut. Penyebutan ‘tehom’ dan ‘hamayim’ bukan untuk menunjukkan adanya sunsur-unsur alam seperti yang kita pahami sekarang, melainkan untuk menunjukkan suatu keadaan kosong ala padang gurun belantara (Singgih 2009, 232). Dengan demikian, bumi bukan hanya masih berwujud pada gurun belantara yang kosong, tetapi memang belum ada bumi seperti yang kita kenal sekarang.
Kata-kata terakhir yang ditafsirkan oleh Singgih adalah ‘or’ yang berarti ‘terang’ dan ‘hayetah’ yang berarti ‘adalah’. Terang dipisahkan oleh Roh Allah dari gelap dan dinamakan ‘siang’ untuk membedakannya dengan gelap (khosyek) yang bernama ‘malam’. Pemisahan terang dari gelap ini menunjukkan bahwa gelap telah ada terlebih dahulu dalam wujud keadaan pra-bara. Hal ini juga berlaku pada ‘laut’ yang bukanlah ciptaan, melainkan keadaan pra-bara yang ditata oleh Allah dengan menempatkannya dalam sebuah “wadah” khusus (Singgih 2009, 244). Mengenai kata ‘hayetah’ yang ditempatkan sebelum kata ‘tohu wabohu’, Singgih menafsirkannya bukan sebagai ‘adalah’, melainkan sebagai ‘tadinya’.
Setelah memahami langkah-langkah penafsiran alternatif Singgih atas Kejadian 1:1-3 yang berbeda dengan penafsiran konvensional, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ia mengasumsikan adanya chaos atau kekosongan sebelum penciptaan. Ia memang tidak mempersoalkan apakah kekosongan tersebut diciptakan terlebih dahulu oleh Allah daripada bumi dan segala isinya, tetapi itu dapat ditoleransi karena toh para penulis Kitab Kejadian tidak mempersoalkan ontologisnya. Allah yang ada bersama dengan chaos itu menatanya hingga menjadi kosmos yang teratur. Penataan tersebut tidak terjadi secara ajaib ala sihir atau sulap, melainkan melibatkan proses atas bahan dasar, yaitu keadaan pra-bara. Dengan demikian, tafsiran alternatif Singgih adalah sebagai berikut:
Ayat 1: Semula, ketika Allah menciptakan langit dan bumi,
Ayat 2: bumi tadinya padang gurun belantara, (dan) gelap gulita di atas permukaan samudera raya. Namun kemudia Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
Ayat 3: dan Allah berkata, “Biarlah ada terang”. Lalu terjadilah terang (Singgih 2009, 214).

Di Manakah Allah Ketika Manusia Menderita?: Sebuah Refleksi Biblis-Teologis
Ex nihilo nihil fit yang dikemukakan oleh Gerrit Singgih menutup blindspot yang terdapat dalam teologi penciptaan creatio ex nihilo. Konsep teologi penciptaan yang ia konstruksi dengan menggunakan pendekatan tafsiran tekstual dan pertimbangan konteks penulisan ini tidak menempatkan Allah sebagai pencipta segala sesuatu. Menurutnya, sebelum alam semesta ditata sedemikian rupa oleh Allah, telah ada chaos yang ada terlebih dahulu. Kekosongan itu berada bersama dengan Sang Penata.
Pemahaman akan keberadaan Allah bersama dengan ciptaan dalam karyanya menata chaos menjadi kosmos merupakan ide teologis dasar atas refleksi mengenai penderitaan manusia. Ketika bencana alam datang bergandengan tangan dengan penderitaan, manusia mempertanyakan keberadaan-Nya. Sayangnya, jawaban yang diberikan kepada manusia malah mengisyaratkan posisi Allah di luar ciptaan. Ia dipercaya bertindak sebagai dalang yang menyebabkan semua terjadi sesuai keinginan dan tujuan-Nya. Tidaklah mengherankan jika seringkali Ia dihujat dan ditinggalkan pada akhirnya. Padahal, Allah (selalu) ada bersama dengan ciptaan. Ia tidaklah berada di belakang penderitaan atau di dunia atas nun jauh hanya mengamati ciptaan, melainkan berada di dalam penderitaan bersama dengan manusia yang mengerang kesakitan, hewan-hewan yang meringkuk sekarat, dan tumbuh-tumbuhan yang berteriak minta tolong dalam kebisuan. Teriakan ciptaan adalah teriakan-Nya. Tangisan ciptaan adalah tangisan-Nya pula. Ia ikut menderita bersama ciptaan.
Kebersamaan Allah dengan ciptaan bukanlah dengan tujuan mengeleminasi penderitaan. Manusia salah besar jika menyangka bahwa penyakitnya akan dipulihkan secara ajaib jika datang kepada-Nya. Ia hadir bersama dengan ciptaan untuk menjadi kawan sependeritaan yang berbelarasa. Bahkan, lebih jauh daripada itu, Allah juga menjadi rekan sekerja yang hadir untuk menolong manusia menata chaos akibat bencana. Dalam artikel berjudul Allah dan Penderitaan di dalam Refleksi Teologis Rakyat Indonesia, Gerrit Singgih merefleksikan Allah yang hadir dalam diri para tentara dan polisi di Aceh yang ditugaskan untuk “menata” chaos (tentu saja bersama dengan pihak-pihak terkait) saat mereka tengah menderita akibat kehilangan sanak saudara dan kerabatnya. Solidaritas semacam itu sangatlah memadai untuk menjawab pertanyaan soal keberadaan Allah ketika manusia menderita (Singgih, Allah dan Penderitaan di dalam Refleksi Teologis Rakyat Indonesia 2005, 6). Konsekuensi teologis-etis dari solidaritas Allah yang ditemukan dalam pertolongan sesama mendorong manusia untuk mengulurkan tangan kepada sesama yang tengah menderita dalam rangka menatachaos menjadi kosmos.

Daftar Acuan
Kleden, Paul Budi. Membongkar Derita. Maumere: Ledalero, 2006.
Lempp, Walter. Kejadian 1:1-4:26. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.
Mohamad, Goenawan. Debu. Duka. Dsb.: Sebuah Pertimbangan Anti-theodese. Jakarta: Tempo & PT Grafiti Pers, 2011.
Reichenbach, Bruce R. Evil and A Good God. New York: Fordham University Press, 1982.
Singgih, Emanuel Gerrit. “Allah dan Penderitaan di dalam Refleksi Teologis Rakyat Indonesia.” Konsultasi Nasional dalam Kerjasama dengan PGI dan EKUMINDO: Teologi Bencana. Makassar: Oase Intim, 2005. 6.
—. Dua Konteks: Tafsir-tafsir Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perjalanan Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Tjahjadi, Simon Petrus Lili. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004.


[1] Terminologi ‘penderitaan’ yang dimaksud oleh penulis merupakan salah satu contoh atau turunan dari kata malumyang diterjemahkan sebagai ‘keburukan’. Terjemahan tersebut berbeda dengan ‘kejahatan’ karena keburukan terjadi bukan sebagai pelanggaran hukum etis-moral, melainkan sebagai keadaan alamiah. Agustinus mendefinisikan malumsecara general sebagai ‘keadaan yang merugikan’ (malum est id quod nocet).
[2] Penggunaan kata ‘Logos’ mengindikasikan pemahaman filosofis yang tengah mempengaruhi dunia Barat pada masa itu. Jejak Gnostisisme yang mengenal istilah tersebut dalam konsep metafisikanya masih dapat ditemukan dalam pemikiran manusia, sekalipun telah dipadukan dengan ajaran Stoa dan Neoplatonisme.

No comments:

Post a Comment